Syiar : Liputan

Bahagia Menanti Buah Hati

Kamis, 18 Februari 2016

Salah satu tujuan ketika seseorang menikah ialah untuk melanjutkan garis keturunan, yakni memiliki anak. Dan hanya dengan menikah, orang memiliki keturunan yang sah secara hukum mau pun agama. 

Berbagai usaha dilakukan agar pasangan yang menikah segera memiliki anak. Mulai dari menjaga kesuburan, periksa ke dokter secara berkala, hingga usaha-usaha lain yang memungkinkan agar dapat segera memiliki anak.

10 Tahun Penantian

Pasangan Amri Yahya dan Dwi Rachmawati (37 tahun) akhirnya mendapatkan buah hati setelah 10 tahun menikah. Pada tahun kedua pernikahan, karena belum juga hamil, mereka memulai serangkaian ikhtiar. 

Mereka mulai untuk melakukan cek medis. Diawali dari suami dulu, baru setelah itu sang istri. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi dan saling menerima menjadi kunci penting. Karena menurut Rachma, lingkungan sosial, keluarga besar, dan teman kerja akan sangat mempengaruhi psikologis.

Rachma menjalani pemeriksaan dan diketahui ia mengalami Poly Cystic Ovary Syndrome (PCOS). PCOS ini disebabkan karena ketidakseimbangan hormonal yang bisa mempengaruhi atau mengganggu menstruasi dan menyebabkan wanita sulit hamil. 

Setelah mengetahui persoalan itu, ikhtiar medis pun dilakukan. Bahkan Rachma juga pernah menjalani inseminasi. Secara logika medis, kemungkinan berhasil cukup besar. Ternyata Allah berkehendak lain, upaya itu gagal. Namun mereka tidak putus asa. Setelah itu mereka mencoba alternatif pengobatan non-medis.

Mulai dari pijat refleksi, terapi, refleksi, akupuntur, minum jamu-jamuan, hingga tergiur mengikuti iklan di TV. Dikatakan klinik pengobatan alternatif tersebut memiliki banyak testimoni dari pasangan yang sudah berhasil memperoleh momongan. Sambil jalan-jalan, mereka berdua pergi ke Jakarta mencari alamat tempat klinik tersebut buka praktik. Qadarullah, Rachma belum juga berhasil hamil.

Rachma sangat bersyukur bahwa orang tua dan mertuanya selalu mendukung dan memberi motivasi agar selalu yakin bahwa suatu hari nanti mereka akan mendapatkan momongan. Pernah ingin mengangkat anak, tapi tidak jadi karena dalam Islam tidak ada konsep adopsi. Pernah juga mengasuh anak saudara, tapi tidak lama karena sang ibu keburu rindu.

Pada akhirnya Rachma memilih lebih mendekatkan diri dengan anak-anak saat mengajar TPA, saat acara arisan kantor, juga dengan anak didik tempatnya bekerja. Titik baliknya, saat mereka berdua pasrah dan berniat berdoa ke Baitullah. 

Sepulang dari umroh salah satu murid Rachma yang mengalami gangguan pendengaran dan bicara, mengatakan bahwa “Us Rachma hamil.” Tapi saat itu ia menjelaskan bahwa yang hamil adalah ustadzah yang lain. Saat yang lain, ada tetangga yang menyapa suami Rachma, “Istrinya hamil ya, Pak?” Jawaban klisepun keluar dibarengi dengan senyuman, “Belum.” 

Dari dua kejadian itulah yang akhirnya membuat Rachma penasaran lalu membuka lagi test pack yang sudah berbulan-bulan ia simpan. Subhanallah, dua garis merah pun muncul di sana, setelah 10 tahun mereka menikah!

Bersiap menjadi Ibu

Bersiap menjadi ibu juga dilakukan oleh Aviya (28 th). Berbeda dengan Rachma yang harus bersabar selama 10 tahun, Aviya ditakdirkan hamil setelah 10 bulan menikah. Kini kehamilannya memasuki usia lima bulan. Ia pun merasakan morning sick seperti wanita hamil umumnya.

Aviya sangat bahagia karena kehamilannya ini banyak mendapatkan dukungan, terutama dari suaminya. Untuk menyiapkan diri menjadi ibu, ia banyak bertanya kepada teman-teman kerja, dan banyak browsing seputar bayi dan persiapan melahirkan.

Sekarang, Aviya lebih berhati-hati menjaga agar kondisi fisiknya prima sampai saat kelahiran tiba. Menjaga kesehatan dan makan makanan bergizi. Selain persiapan fikri dan jasadi, persiapan ruhiyah pun ia lakukan. 

Calon ibu muda ini istiqamah merutinkan tilawah Al-Qur’an satu juz per hari. Ia berharap sampai dengan saat kelahiran nanti ia bisa 9 - 10 kali khatam. Selain itu, ia juga menambah target hafalannya. Sehingga hari-harinya menanti buah hati diisi dengan menghafal dan murojaah. 

Dia berharap proses kelahirannya nanti berjalan lancar. Lebih dari itu, ia juga ingin menjadi seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih-shalihah, pintar, serta berakhlak mulia. Amiin. (Ayu)

  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
      • Meneladani Ibunda Imam Syafi’i

        H. Wiranto Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta Bagi seorang muslim, salah satu cara membangkitkan energi positif guna mempertahankan idealisme dalam mengarungi ...
      • Kemuliaan Seorang Ibu

        Banyak lagu diciptakan dan dilantunkan untuk menggambarkan sosok dan pribadi seorang ibu. Kata-kata pujangga seolah tidak pernah habis melukiskan keindahan ...
      • Sakit Bukan Alasan Lari dari Amanah

        Masyarakat Kota Solo pasti tidak asing dengan sosok tamu kali ini. Wajahnya pernah menghiasi baliho dan spanduk-spanduk di penjuru wilayah ...
      • Ibu dan Peran Multitasking

        Perempuan dilahirkan dengan kemampuan multitasking yang cukup mengagumkan. Contoh sederhana, ketika mencuci (dengan mesin) seorang ibu mungkin akan nyambi memasak, ...
      • Ketika Ibu Sakit

        Banyak urusan rumah tangga yang menjadi tanggung jawab seorang ibu. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan kerja suami dan ...
      • Doa Segera Mendapatkan Jodoh

        H. Kasori Mujahid Assalamu’alaikum Warohmatullahi WabarakatuhUstadz, saya seorang perempuan berusia 25 tahun dan sampai sekarang belum mendapat jodoh. Saya ingin bertanya ...
      November 2017
      MSSR KJS
      1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      2627282930
      • 0
        7
        6
        5
        1
        0
        8
      • Pengunjung hari ini : 87
      • Total pengunjung : 155687
      • Hits hari ini : 372
      • Total Hits : 765108
      • Pengunjung online : 1