Syiar : Samara

8 Hal Pemicu Kerentanan Keluarga

Selasa, 07 Agustus 2018

Cahyadi Takariawan

Konselor Jogja Family Center (JFC)

 

Kehidupan berumah tangga selalu ada dinamika berupa permasalahan dan tantangan silih berganti. Bahkan bisa dikatakan, kehidupan keluarga tidak pernah sepi dari permasalahan dan tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Beberapa hal dalam keluarga berikut diidentifikasi menjadi faktor-faktor resiko yang berpotensi memunculkan permasalahan sehingga memunculkan kerentanan dalam keluarga, seperti disebutkan Ariel Kalil (2003) dan Eldridge (1994).

  • Kemiskinan

Dalam situasi kemiskinan yang sangat menyulitkan, keluarga benar-benar menghadapi tekanan yang sangat berat. Pasangan yang tidak memiliki daya resiliensi, kemiskinan mudah menyulut konflik hingga sampai tingkat perceraian. Kemiskinan adalah faktor penyebab perceraian yang cukup tinggi di Indonesia.

  • Pengangguran

Suami yang biasa bekerja mapan, mendadak berhenti bekerja karena PHK, bisa menjadi stressor berat. Suami yang menganggur di rumah, bisa menjadi pemicu masalah lebih lanjut dalam kehidupan berumah tangga.

  • Perceraian

Setelah bercerai, masalah baru akan muncul pada masing-masing anggota keluarga, terlebih pada anak-anak. Mereka bisa mengalami alienasi, keterasingan, kesepian, kehilangan figur, kehilangan kehangatan, karena perubahan pola dalam kehidupan. Yang semula berada dalam kondisi keluarga yang utuh, setelah bercerai menjadi tidak lagi utuh. Anak-anak paling rentan mengalami faktor resiko tekanan kehidupan setelah orang tua bercerai.

  • Kematian Anggota Keluarga

Kematian salah satu atau beberapa anggota keluarga menimbulkan tekanan dan persoalan kehidupan. Kehilangan orang yang dicintai bisa menjadi penyebab stres dalam waktu panjang dan memengaruhi kestabilan kehidupan keluarga. Ditinggal mati suami, ditinggal mati istri, anak, atau orang tua, bisa menjadi faktor pemicu stres yang harus disiapkan dan dikelola dengan baik. 

  • Penyakit Kronis

Penyakit kronis dan parah yang diderita salah satu atau beberapa anggota keluarga bisa menjadi sumber stres yang berkelanjutan, suami misalnya. Istri dan anak-anak bisa mengalami stres karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi. Demikian pula pada istri, bisa menjadi tekanan berat bagi suami karena tidak bisa terlayani.

  • Ketidaksuburan Reproduksi

Salah satu tujuan menikah dan berumah tangga adalah memiliki anak. Maka tatkala dalam pernikahan tidak bisa memiliki keturunan karena ketidaksuburan reproduksi, bisa memunculkan persoalan tersendiri yang cukup pelik. Kadang terjadi suasana saling menyalahkan antara suami dan istri, bahkan bisa juga tuntutan dari keluarga besar.

  • Perkembangan Teknologi

Sangat banyak dijumpai keretakan dan kehancuran keluarga dipicu oleh faktor teknologi komunikasi dan informasi yang terlalu deras dan tidak bijak dalam memanfaatkannya. Akhirnya teknologi menjadi petaka dalam keluarga. Muncul pihak ketiga melalui fitur-fitur komunikasi, ketidaksetiaan telah dipermudah oleh perkembangan teknologi.

  • Perkembangan Sosial, Budaya dan Politik

Salah satu faktor eksternal yang bisa memicu stress pada pribadi dan keluarga adalah perkembangan sosial, budaya dan juga politik. Situasi kehidupan yang terus menerus berubah, tuntutan hidup yang terus berkembang, sering kali tidak diikuti dengan kemampuan untuk segera beradaptasi. Ketidaksiapan mengantisipasi semua itu bisa memicu resiko stres pada pribadi dan keluarga.

 

Daya Resiliensi

Seluruh faktor yang menjadi pemicu kerentanan keluarga, pada dasarnya bisa diatasi dan diantisipasi dengan menguatkan resiliensi keluarga. Yang dimaksud dengan resiliensi atau kelentingan adalah kemampuan individu atau komunitas untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat atau masalah dan penderitaan yang terjadi dalam kehidupan. 

Daya resiliensi yang tinggi akan melahirkan karakter dan perilaku positif dalam menghadapi semua faktor resiko tersebut, seperti kuatnya pendekatan diri kepada Allah, sikap saling percaya dan menghargai satu sama lain, tradisi kebersamaan dalam keluarga, komunikasi efektif, saling menjaga, saling membantu, saling memaafkan serta komitmen yang kuat terhadap kepentingan dan kebaikan keluarga. []

 

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • Lejitkan Indonesia dan Ikuti Lomba Film Pendek Syiar NH 2018

    Hasil penelitian We are social dan Hootsuite menyebutkan 132,7 juta masyarakat Indonesia menggunakan Internet dan 130 juta di antaranya aktif ...
  • LOMBA FILM PENDEK 2018

    Ketentuan Lomba Film Pendek “Lejitkan Indonesia dengan Caramu” 2018  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia minimal 14 tahun. Dibuktikan ...
  • Ukuran Sepatu Kita Berbeda

    Sepatu terbaik adalah sepatu yang pas di kaki, pas ukurannya dan pas dengan postur kaki kita. Semahal apapun harganya, jika ...
  • Strategi Bersaing dalam Bisnis

    Mempertahankan usaha supaya tetap berjalan dan sehat juga tak kalah susahnya dari saat memulainya. Agar usaha Anda berkelanjutan dan memenangkan ...
  • Tongkol Lombok Ijo

    Ikan tongkol banyak mengandung nilai gizi yang baik untuk tubuh. Pastinya Anda pernah mencoba berbagai olahan ikan tongkol, bukan? Apalagi ...
  • Sehat Bersama Taiji Solo

    Taiji adalah salah satu jenis senam kesehatan yang berasal dari Tiongkok. Taiji terbagi menjadi berbagai gaya yang asalnya dari satu ...
Oktober 2018
MSSR KJS
123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
  • 0
    9
    5
    2
    8
    6
    4
  • Pengunjung hari ini : 249
  • Total pengunjung : 217663
  • Hits hari ini : 424
  • Total Hits : 952864
  • Pengunjung online : 1