Syiar : Khazanah

Senyum Dahlia

Sabtu, 07 Juli 2018

Oleh: Nishfi Yanuar

 

Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah angkot berlalu aku harus jalan kaki menuju gang ke arah rumah. Jaraknya memang tak begitu jauh, tapi bagaimana mungkin basah-basahan dengan seragam sekolah yang besok masih dipakai?

Aku berdiri sendirian di emper toko Mak Lela. Entah kenapa hari ini tokonya tutup. Kalau buka, pastinya mudah saja untuk segera sampai rumah. Tinggal meminjam payung atau jas hujan padanya.

Samar-samar, dari seberang jalan tampak gadis kecil menyeberang bersama payung lebar di atas kepala. Rambutnya yang berkepang dua membuatku mudah mengenalinya. Benar saja, dia Dahlia, tetanggaku. Kaki kecilnya setengah berlari menuju ke tempat aku berteduh.

"Kak Muna mau pulang?" bocah kelas lima SD itu menyapa. Wajahnya basah oleh tempias hujan.

"Iya, ini baru pulang sekolah. Kamu dari pasar lagi ya?" ucapku menebak. Teringat ceritanya waktu itu. Aktivitas baru yang akhir-akhir ini ia lakukan setiap sore.

"Iya, tapi di pasar tadi sepi. Jadi aku pulang saja. Lagian belum ngerjain PR," ujarnya sedikit kecewa. "Ayo, pulang bareng saja, Kak," tawarnya kemudian.

"Wah, boleh juga. Kebetulan banget ketemu kamu. Eh, tapi kena sewa juga nggak?" Aku tertawa mencandainya.

"Iya, dong. Sewanya dibayar nanti malam ya!" Suara cemperengnya yang beradu hujan masih tedengar jelas. Duh, sepertinya dia menganggapku bertanya serius. Aku nyengir.

"Iya deh, boleh. Yang penting sekarang kita pulang. Dingin banget ini," ajakku setengah memaksa. Tak ingin seragam putih abu-abuku menggigil lebih lama terkena cipratan hujan.

Dahlia mengulurkan payung besarnya. Segera kugendong tas ransel yang sedari tadi kupeluk, lalu meraih payung tersebut. Ah, cukup berat sebenarnya untuk ukuran tubuh Dahlia. Apalagi dia menentengnya hampir setiap hari.

Tak perlu waktu lama. Kurang dari sepuluh menit kami sampai di rumah.

**

Hujan masih rintik-rintik. Merinai kecil-kecil di antara gelap. Maghrib sudah sekitar setengah jam lalu berlalu. Namun, aku masih meringkuk malas di balik mukena. Enggan beranjak.

"Hujan begini kamu nekat ke sini to, Nduk?"

Itu suara Bapak, terdengar seiring pintu depan dibuka. Bicara sama siapa?

"Pakai payung kok. Kak Muna ada, ndak?"

Oh, suara Dahlia sepertinya. Mau apa anak itu mencariku? Aih, apa nagih uang dari ojek payung sore tadi? Ya, tentu saja. Sebagai uang sakunya besok.

Bapak mengetuk pintu kamarku. Memanggil keras. Aku mengiyakan sembari melepas mukena. Menggantinya dengan jaket lusuh biru tua. Tak lupa mengambil uang sepuluh ribuan dan menaruhnya di dalam saku.

"Ada apa, Li?" tanyaku basa basi. Meski jelas-jelas tahu jawaban Dahlia.

"Ajarin ngerjain PR, Kak ...."

Hmm, aku membuang napas. Ternyata Dahlia lah yang lebih pandai berbasa basi. Jadi ini bayaran yang ia minta tadi sore? Kulihat buku paket Matematikanya sudah siap di atas meja.

"PR-nya banyak, Kak. Jadi sebel deh sama Pak Reza," runtuk Dahlia sambil membuka buku. Terlihat angka-angka di setiap lembarannya.

"Oh, gurunya Pak Reza? Ngajar Kakak juga dulu. Belum pensiun ternyata ...." Aku tersenyum geli mengingat perutnya yang buncit. Bergetar naik turun saat marah-marah di depan kelas.

Dahlia menunjukkan soal-soal di buku paketnya. Tentang FPB dan KPK. Bagiku mudah saja sebenarnya, yang sulit adalah menjelaskan padanya. Membuat dia mengerti lalu bisa mengerjakan sendiri.

Aku sangat maklum dengan keadaannya. Bocah itu hanya tinggal berdua dengan neneknya yang buta huruf. Sang ibu meninggal dalam kecelakaan saat ia masih kecil. Sedang bapaknya bekerja menjadi kuli bangunan di kota. Pulang mungkin hanya sekitar dua minggu sekali untuk mengantar uang yang tak seberapa. Pantas saja jika kemampuan belajarnya biasa-biasa saja. Tak ada yang membimbing di rumah. Bisa tetap sekolah saja seolah sebuah anugerah. Namun, semangatnya patut kuancungi jempol. Tak jarang dia ke sini untuk belajar denganku.

Belum lagi kegiatan barunya sekarang. Sore, setiap hujan tiba, ketika semua orang memilih berteduh atau teman-teman sebayanya berkecipuk bermain hujan, Dahlia justru siap dengan payungnya menuju pasar yang tak begitu jauh dari rumah. Bukan untuk berbelanja pastinya, tapi menjajakan payung pada orang-orang yang berteduh. Ikut-ikutan menjadi ojek payung seperti beberapa anak yang lebih tua darinya. Yang membuatku salut, ia terlihat senang dengan hal tersebut.

Hampir satu jam berlalu, PR itu selesai juga. Dahlia membereskan semua buku dan alat tulisnya. Memasukkan ke dalam kantong kresek. Ada haru yang tiba-tiba kembali menyeruak di dadaku.

Aku ingat betul saat tempo hari Dahlia ke sini untuk belajar. Tas sekolahnya sobek di bagian tepi. Terlihat bekas jahitan benang hijau, sangat kontras dengan warna dasar tas yang dominan hitam. Dan kemarin, dia bilang tasnya sudah dijahit lagi. Tapi kata simbahnya, hanya boleh dibawa saat sekolah. Supaya awet. Itulah kenapa sekarang hanya kantong kresek yang dibawa. Lagi-lagi aku tertampar, anak usia SD itu menurut. Hanya berharap uang dari ojek payungnya terkumpul banyak untuk membeli tas baru.

"Kak, makasih ya. Aku mau pulang." Gadis mungil itu membuyarkan lamunanku.

"Eh, iya, sampai rumah cepat tidur ya. Jangan lupa shalat dulu," ujarku lirih menahan sembab di mata.

"Oya, nanti kalau sekolah Kak Muna udah selesai, ngajar di sekolahku saja. Gantiin Pak Reza. Pasti teman-temanku senang."

Spontan aku tertawa. Ah, bocah ajaib itu. Senyumnya seolah tak pernah layu. Dia selalu ceria dan seringkali membuatku gemas dengan perkataan-perkataan polosnya. Kadang, ia juga terlihat lebih dewasa dari usianya. Benar, keadaan memaksanya demikian. Semoga masa depanmu lebih baik, Nduk.

"Kakak jadi guru privatnya Dahlia saja, deh. Takut kalau gantiin Pak Reza, entar dijewer gimana?"

Dahlia terkekeh. "Masa udah besar takut dijewer?"

Aku membalas senyum. Merogoh saku lalu mengulurkan selembar sepuluh ribuan padanya. Jatah uang sakuku besok sebenarnya. Dia girang menyambut.

Dahlia, aku belajar banyak darimu. Tetaplah semangat, ya!

***

 

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • Lejitkan Indonesia dan Ikuti Lomba Film Pendek Syiar NH 2018

    Hasil penelitian We are social dan Hootsuite menyebutkan 132,7 juta masyarakat Indonesia menggunakan Internet dan 130 juta di antaranya aktif ...
  • LOMBA FILM PENDEK 2018

    Ketentuan Lomba Film Pendek “Lejitkan Indonesia dengan Caramu” 2018  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia minimal 14 tahun. Dibuktikan ...
  • Ukuran Sepatu Kita Berbeda

    Sepatu terbaik adalah sepatu yang pas di kaki, pas ukurannya dan pas dengan postur kaki kita. Semahal apapun harganya, jika ...
  • Strategi Bersaing dalam Bisnis

    Mempertahankan usaha supaya tetap berjalan dan sehat juga tak kalah susahnya dari saat memulainya. Agar usaha Anda berkelanjutan dan memenangkan ...
  • Tongkol Lombok Ijo

    Ikan tongkol banyak mengandung nilai gizi yang baik untuk tubuh. Pastinya Anda pernah mencoba berbagai olahan ikan tongkol, bukan? Apalagi ...
  • Sehat Bersama Taiji Solo

    Taiji adalah salah satu jenis senam kesehatan yang berasal dari Tiongkok. Taiji terbagi menjadi berbagai gaya yang asalnya dari satu ...
Oktober 2018
MSSR KJS
123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
  • 0
    9
    5
    2
    9
    0
    4
  • Pengunjung hari ini : 249
  • Total pengunjung : 217663
  • Hits hari ini : 464
  • Total Hits : 952904
  • Pengunjung online : 1