Syiar : Kesehatan

Mengapa Alergi Susu Sapi?

Sabtu, 07 Juli 2018

dr. Siti Munawaroh

Klinik Nur Hidayah

 

ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada satu pun jenis susu lain bisa menyamainya. Selain itu tidak semua zat gizi yang terdapat dalam susu formula bisa diserap oleh bayi.

Beberapa kasus menyebabkan orang tua tidak bisa memberikan ASI, baik karena alasan medis ataupun alasan lainnya dan menggantinya dengan susu formula. Pemberian susu formula ini terkadang menimbulkan permasalahan baru, yaitu munculnya masalah kesehatan karena bayi tidak cocok dengan susu tersebut.

Ketidakcocokan ini sering diartikan oleh masyarakat awam sebagai alergi terhadap susu formula. Hal ini kurang tepat karena sebenarnya alergi merupakan reaksi simpang makanan akibat respon kekebalan tubuh/ imunologis yang abnormal. Sedangkan ketidakcocokan bayi terhadap susu formula tidak selalu disebabkan oleh reaksi imunologis.

Reaksi simpang makanan akibat mekanisme non-imunologis disebut sebagai intoleransi makanan. Alergi susu sapi dan intoleransi laktosa adalah dua jenis penyakit yang berbeda. Namun, seringkali terjadi kesalahpahaman dalam identifikasi dua penyakit ini karena gejala yang timbul hampir mirip satu sama lain.

Alergi susu sapi merupakan jenis alergi yang paling umum terjadi pada anak-anak. 95% kasus alergi susu sapi terjadi pada rentang usia tahun pertama kehidupan si kecil. Mayoritas anak teridentifikasi memiliki alergi susu sapi pada 4 bulan pertama. 9 dari 10 pasien alegi susu sapi berhasil sembuh dari alergi setelah usia 3 tahun.

Gejala alergi susu sapi didominasi masalah pada pancernaan (diare, kolik, dan muntah pada bayi), masalah alergi pada kulit (eksim atopik, urticarial), dan gejala gangguan saluran pernafasan (alergi rhinitis, asma). Pada kasus yang lain, ditemukan gejala seperti gagal tumbuh dan anemia.

Bila anak minum PASI (Pengganti Air Susu Ibu) dan ASI (Air Susu Ibu), harus cermat dalam menentukan penyebab gangguan tersebut. Dalam kasus tersebut, PASI atau ASI dapat dicurigai sebagai penyebab alergi. Pada pemberian ASI, diet yang dimakan ibunya dapat mempengaruhi bayi. Bila pemberian PASI sebelumnya sudah berlangsung lebih dari 1 – 2 minggu tidak terdapat gangguan, kemungkinan susu formula sapi tersebut bukan sebagai penyebab alergi. Harus diperhatikan apakah diet ibunya sebagai penyebab alergi.

Kadang ada beberapa anak dengan susu formula sapi yang satu tidak cocok tetapi susu formula sapi lainnya bisa diterima. Hal inilah yang menunjukkan bahwa komposisi dan kandungan lain di dalam susu formula tersebut yang ikut berperanan. Faktor yang berpengaruh mungkin saja karena perbedaan dalam proses pembuatan bahan dasar susu sapi. Dengan pemanasan dan proses tertentu yang berbeda beberapa kandungan protein tertentu yang mengganggu akan menghilang.

Kandungan DHA dalam susu formula kadang dapat mengakibatkan gangguan pada anak tertentu berupa gangguan kulit. Sedangkan kandungan minyak kelapa sawit dapat mengakibatkan gangguan saluran cerna berupa konstipasi. Aroma rasa susu seperti coklat sering menimbulkan reaksi batuk atau konstipasi. Begitu juga kandungan lemak tertentu, minyak jagung dan laktosa pada susu formula tersebut dapat mengakibatkan manifestasi yang hampir sama dengan alergi susu sapi.

Cara Pemilihan Susu bagi Bayi Penderita Alergi

Pemberian susu merupakan masalah yang tersendiri pada penderita alergi. Untuk menentukan penderita alergi susu sapi pilihan utama adalah susu ekstensif hidrolisat. Tetapi beberapa penderita juga bisa toleran terhadap susu soya. Beberapa bayi dengan gejala alergi yang ringan dapat mengkonsumsi susu hodrolisat parsial. Meskipun sebenarnya susu ini untuk pencegahan alergi bukan untuk pengobatan.

Secara awal penderita diberikan susu ekstensif hidrolisat. Bila gejala alergi membaik selanjutnya dilakukan provokasi formula berturut turut yang lebih beresiko seperti soya, parsial hidrolisat, dan susu formula yang minimal kandungan AA, DHA, minyak kelapa sawit dan sebagainya.

Formula yang paling tepat adalah yang tidak menimbulkan gangguan. Bila timbul gejala pada salah satu formula tersebut kita harus pilih formula satu tingkat lebih aman di atasnya. Bila susu parsial hidrolisa dan soya timbul gangguan dilakukan provokasi terhadap susu laktosa dan lemah rantai tunggal (Monochain Trigliceride/MCT). []

 

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    4
    3
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 61
  • Total Hits : 904443
  • Pengunjung online : 1