Syiar : Perspektif

“Phubbing” dan Madesu

Sabtu, 07 Juli 2018

Afifah Afra

Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) 

 

Dua akronim ini mungkin memiliki derajat ‘stratifikasi’ yang berbeda di benak Anda. Kata phubbing, bisa jadi terdengar aneh, karena memang jarang ditemukan di percakapan sehari-hari. Phubbing merupakan akronim dari phone + snubbing (telepon + ketidakpedulian). Berdasarkan Oxford Dictionary, Phubbing dimaknai sebagai "The practice of ignoring one's companion or companions in order to pay attention to one's phone or other mobile device". Ya, ketidakpedulian, kecuekan, pengabaian terhadap orang-orang di sekitarnya dikarenakan sibuk dengan gadgetnya.

Di masa ini, phubbing—atau yang oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diterjemahkan sebagai “mabuk gawai”, sudah menjadi keniscayaan. Tidak tua, tidak muda, sibuk dengan gadgetnya, dan cuek terhadap sekitarnya.

Adapun Madesu, masa depan suram, merujuk pada kondisi prediksi masa depan tak jelas dan serba mencemaskan yang ditarik dari peristiwa masa kini yang tidak menentu dan mengkhawatirkan.

Phubbing jelas memiliki hubungan sebab akibat yang kuat dengan Madesu. Saat ini, sedang digalakkan 4 jenis soft skill yang akan menjadi keterampilan penting di Abad 21, yaitu communication, critical thinking & problem, collaboration dan creativity & innovation. Menurut para pakar, untuk bisa sukses dan leading di abad 21, ke-4 ketrampilan tersebut mutlak perlu dimiliki oleh siapapun.

Lihatlah, dua jenis ketrampilan di atas, yaitu komunikasi dan kolaborasi, jelas membutuhkan modal dasar yang kuat, yaitu keterikatan hati, kedekatan jiwa, perasaan klik dan semacam “chemistry of love” yang tak mungkin dimiliki jika kita selalu cuek dan miskin perhatian dengan orang-orang di sekitar.

Ketidakfokusan dengan lingkungan karena phubbing, juga rentan memunculkan miss communication akibat kurang memahami pesan dari orang di sekitar kita. Bayangkan, jika seorang karyawan yang sedang ‘mabuk gawai’ tiba-tiba diperintah bosnya. Bisa jadi, dia tidak mendengar pesan tersebut 100% sehingga salah melakukan apa yang diperintahkan.

Jika phubbing terus-menerus menyerang generasi muda kita dan menjadi karakter yang melekat kuat, maka generasi muda kita akan jadi generasi yang bebal, tidak cepat tanggap dan kurang sensitif terhadap dinamika zaman. Bukankah itu artinya generasi muda kita sedang dicekam Madesu?

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    5
    9
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 77
  • Total Hits : 904459
  • Pengunjung online : 1