Syiar : Siroh

Imran bin Hushain, Seperti Malaikat

Sabtu, 07 Juli 2018

Imran bin Husain merupakan gambaran pribadi yang melegakan hati bagi kejujuran, kezuhudan, keshalehan, pengabdian, kecintaan, dan ketaatan kepada Allah. Meski dalam hidupnya ia selalu mendapatkan taufik dan petunjuk Allah yang tidak terkira, ia sering menangis mencucurkan air mata dan meratap “Wahai, seandainya aku ini menjadi debu yang diterbangkan angin saja.”

Suatu saat beberapa sahabat menanyakan pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa kami ini bila sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala. Tetapi, ketika kami meninggalkanmu dan kami kembali ke keluarga, anak-anak, dan dunia kami, kami menjadi orang yang lupa diri?”

Rasulullah menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam keadaan seperti saat di sisiku, para malaikat pasti akan menampakkan diri dan menjabat tangan kalian. Namun, ada waktu keimanan itu meningkat dan ada waktu menurunnya.”

Imran bin Hushain mendengar pembicaraan itu. Seketika itu kerinduannya bergejolak dan ia seolah-olah bersumpah pada dirinya untuk tidak pernah berada kecuali dalam keadaan yang mulia tersebut, bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun. Ia seolah-olah tidak puas bila harus menjalani hidupnya dalam dua waktu itu, waktu keimanan meningkat dan menurun pada waktu lain. Ia menginginkan seluruh hidupnya dalam keadaan pada waktu pertama saja, tanpa putus untuk memusatkan perhatian dan selalu beribadah kepada Allah.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab, Imran dikirim oleh Khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Di Bashrah inilah ia melabuhkan kendaraannya, dan sejak penduduk setempat mengenalnya, mereka berdatangan untuk mendapatkan berkah ilmunya dan meniru ketakwaannya. Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin menuturkan, “Tidak seorang pun di antara sahabat Rasul yang datang ke Bashrah lebih utama daripada Imran bin Hushain.”

Imran tidak ingin ada kesibukan apapun yang mengganggunya dari Allah dan beribadah kepada-Nya. Ia selalu sibuk dengan ibadah. Keasyikannya dengan ibadah ini seolah-olah ia bukan penduduk bumi yang hidup di atasnya dan di antara sesama manusia. Sungguh, ia lebih cocok bila dikatakan sebagai malaikat yang hidup di lingkungan para malaikat, bergaul, dan berbicara dengan mereka, bertemu muka, dan bersalaman dengan mereka.

Ketika terjadi pertentangan tajam di antara kaum muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, Imran bukan saja menunjukkan sikap tidak memihak kepada siapa pun, melainkan juga meneriakkan kepada umat agar tidak campur tangan dalam perang tersebut. Ia menyeru agar mereka hanya membela dan mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Ia berkata kepada mereka, “Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai mati daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, baik meleset maupun tidak.”

Keimanan Imran bin Hushain membuahkan hasil yang gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama tiga puluh tahun, ia tidak pernah merasa kecewa atau mengeluh, meskipun hanya ucapan “aduh”. Sebaliknya, ia tidak henti-hentinya beribadah kepada-Nya, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Para sahabat dan orang-orang yang dekat dengannya datang menjenguk dan menghibur hatinya atas penyakit yang dideritanya. Namun ia hanya tersenyum seraya berkata, “Sesungguhnya perkara yang paling aku sukai ialah perkara yang paling disukai Allah.” Ketika ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum kerabat dan para sahabatnya ialah, “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan makan.”

Mereka memang pantas menyembelih hewan dan mengadakan jamuan makan karena kematian seorang mukmin seperti Imran bin Hushain bukanlah kematian yang sesungguhnya, melainkan sebuah pelepasan pengantin yang agung dan mulia, di mana roh yang tinggi dan telah ridha diarak ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang takwa. [Noviana Sari/Biografi 60 Sahabat Nabi]

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    6
    3
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 81
  • Total Hits : 904463
  • Pengunjung online : 1