Syiar : Samara

Keluarga Sebagai Etalase Dakwah

Sabtu, 07 Juli 2018

Cahyadi Takariawan

Konselor Jogja Family Center (JFC)

 

Mari kita perhatikan penggal kisah perjanjian Hudaibiyah, antara kaum muslimin dan orang-orang kafir Quraisy. Seusai dilaksanakan perjanjian tersebut, hati kaum muslimin masih gerah, disebabkan tingkah laku Suhail bin Amr -wakil pihak Quraisy- yang dianggap telah melecehkan kaum muslimin. Tatkala Rasulullah saw memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menanggalkan pakaian ihram, mencukur rambut dan menyembelih hewan qurban, tak satupun yang berangkat. Bahkan perintah itu telah beliau ulang hingga tiga kali. Mereka tak juga berangkat menunaikan perintah.

Apa yang beliau lakukan kemudian? Ternyata beliau masuk ke tenda, menjumpai Ummu Salamah ra, istri beliau yang menyertai dalam perjalanan. Beliau ceritakan hal itu kepada sang istri. Subhanallah, ternyata ada sesuatu yang terlupa oleh beliau, dan telah diingatkan oleh Ummu Salamah.

Bergegas beliau menemui kaum muslimin, sebagaimana saran Ummu Salamah, kemudian beliau melepas pakaian ihram, mencukur rambut, dan menyembelih hewan qurban, tanpa mengulang perintah. Demi dilihatnya sang Nabi telah mencontohkan, tanpa dikomando kaum muslimin melakukan hal serupa.

Demikianlah salah satu episode dalam keluarga dakwah. Suami dan istri akan saling memberikan ketenangan dengan mawaddah dan rahmah.

 

Keluarga: An-Nazhrah al-Ijabiyah fid Da’wah

Suatu ketika, Umar ra hendak berbicara di depan umatnya. Sebelum ia berangkat, dikumpulkan sanak familinya, lalu ia berkata, “Ketahuilah, aku akan mengajak manusia kepada begini dan begitu. Aku bersumpah dengan nama Allah yang Maha Agung bahwa aku tak mau sekali-kali melihat ada seorang di antara kalian melakukan apa yang aku larang terhadap manusia, atau meninggalkan apa yang aku perintahkan kepada mereka. Siapa yang berani melanggar ketentuan ini, niscaya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang pedih”.

Kita juga menyaksikan, orang-orang yang mula pertama beriman adalah dari lingkungan keluarga Rasulullah saw sendiri. Setelah Khadijah ra beriman, disusul kemudian Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah ra. Baru setelah itu, beliau mengajak orang di luar keluarganya.

Keluarga adalah citra bagi dakwah Islam. Membangun masyarakat, apalagi negara dan dunia, tak akan berhasil tanpa dimulai dengan pembangunan dan pembinaan keluarga. Ia memang citra yang membuat umat menyambut atau menolak dakwah yang disampaikan kepada mereka.

Khairu Ummah, dari Keluarga

Umat akan berpredikat Khairu Ummah apabila memenuhi tiga syarat. Pertama, ta’muruuna bil ma’ruf, mereka memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Kedua, tanhauna ‘anil munkar, mereka mencegah dari perbuatan munkar, dan ketiga tu’minuuna billaah, mereka beriman kepada Allah. Namun darimana kah datangnya generasi yang mampu meraih predikat itu, jika tidak dimulai dari persiapan dalam keluarga?

Bukankah Luqman telah memberikan teladan, tatkala ia membina anaknya :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar” (QS Luqman: 13).

“Hai anakku, dirikanlah shalat, dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS Luqman:18).

Keluarga Luqman, telah mencontohkan persiapan generasi khairu ummah. Generasi yang menegakkan amar ma’ruf, nahi munkar, sedang mereka beriman kepada Allah, tanpa melakukan kemusyrikan.

Umat akan baik, jika dimulai dari keluarga yang baik. Keluarga akan Islami, apabila setiap individu dalam keluarga itu memahami dan melaksanakan tugas dan kewajibannya masing-masing, sesuai aturan Islam. Oleh karenanya, keluarga sebagai lembaga terkecil dalam struktur umat memiliki peran yang amat strategis dalam merekayasa peradaban masa depan. Peradaban yang menjanjikan kebaikan dalam segala aspeknya, karena dikendalikan oleh generasi khairu ummah.

Luqman adalah tipologi kepala keluarga yang sadar akan beban masa depan. Ia telah memulai, bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai percontohan. Keluarga adalah etalase dakwah. Keluarga adalah pencetak generasi khairu ummah.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    4
    1
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 59
  • Total Hits : 904441
  • Pengunjung online : 1