Syiar : Konsultasi Keluarga

Pengertian Talak 1, 2 dan 3

Sabtu, 07 Juli 2018

H Kasori Mujahid

Konselor Rumah Keluarga Indonesia

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

Rebat cekap ustadz. Saya masih bingung tentang talak dan hukum lain yang menyertainya. Mohon dijelaskan juga mengenai pengertian talak 1, 2 dan 3. Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana hukumnya talak yang diucapkan suami ketika sedang marah dan berkali-kali mengatakan: ”saya talak kamu, saya talak kamu”. Dan itu berulang-ulang diucapkannya tatkala ia sedang marah. Apakah talaknya telah jatuh? Jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Aminah, Jaten, Karanganyar.

 

Jawaban.

Wa’alaikumussalam wr.wb.

Ibu Aminah yang baik,

Rasulullah SAW bersabda: “Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak” (HR Abu Dawud). Talak secara bahasa berarti melepaskan atau meninggalkan, dan menurut istilah agama adalah melepaskan ikatan perkawinan atau bubarnya hubungan perkawinan.

Talak adalah perbuatan yang dimurkai Allah swt. Walaupun menurut hukum fiqih, talak adalah sesuatu yang halal, tetapi hanya boleh dipakai/dilakukan bila sudah tidak ada jalan lain yang dapat diupayakan (menurut kemampuan manusia yang maksimal). Ia juga semata-mata hanya sebagai pintu darurat (emergency exit), bila tidak ada jalan lain menuju kepada kebahagiaan keluarga, dan tidak mungkin lagi terimplementasikan syariat-syariat Islam untuk mencari keridhoan Allah swt.

Ibu yang baik,

Mengenai pengertian talak satu, dua, dan tiga. Setiap pasangan suami istri memiliki cadangan tiga talak yang harus dijaga baik-baik agar jangan sampai dijatuhkan. Bila karena satu hal (yang dibolehkan agama) terpaksa suami harus menjatuhkan satu talak, maka masih tersisa dua lagi. Mereka masih diperbolehkan rujuk lagi dengan salah satu dari dua cara. Yaitu sebelum habis masa ‘iddah dan setelah habis masa ‘iddah. Yang membedakan adalah waktu untuk merujuknya dan tata caranya.

“Talak itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 229)

 

Jangan Main-main

Untuk menjawab pertanyaan apakah jatuh talak ketika suami pada waktu/kondisi marah mengatakan kepada istrinya :”Saya cerai kamu” berkali-kali? Ada dua perbedaan pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama adalah secara otomatis telah jatuh talak, baik dia jatuhkan dengan main-main atau sungguhan, dan pendapat kedua adalah sebagaimana berikut ini.

Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah menerangkannya dengan mengutip beberapa sumber.

1. Sabda Rasulullah saw: “Tidak ada talak dan tidak ada pemerdekaan budak bila tertutup akalnya”(HR Ahmad, Ibnu Majah, Hakim yang disahkannya). Tertutup akalnya di sini dimaksudkan dengan marah. Ada yang mengartikannya terpaksa atau gila.

2. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah: “Tertutup akal itu pada hakikatnya adalah seseorang yang hatinya tertutup (tidak sadar) sehingga keluar ucapan yang tidak dimaksudkannya atau tidak disadarinya, seolah-olah maksud dan kemauannya tertutup. Termasuk dalam pengertian tertutup akalnya adalah talak karena paksaan, gila, orang yang hilang akalnya karena mabuk atau marah, semua ucapan yang tidak disengaja dan ucapan yang tidak disadari”.

Marah menurut Ibnul Qoyyim ada tiga macam, pertama, yang menghilangkan akal, sehingga tidak sadar apa yang disampaikannya. Kedua, marah yang tidak mengakibatkan seseorang kehilangan kesadaran atas apa yang dimaksud oleh ucapan-ucapannya. Ketiga, marah yang sangat, tetapi tidak sama sekali menghilangkan kesadaran akalnya, sehingga kemudian ia menyesal atas keterlanjurannya mengucapkan talak ketika marah.

Tetapi untuk lebih hati-hatinya dalam hal ini, perlu kiranya seorang istri bertanya kepada suaminya ketika ia mengucapkan kalimat cerai dalam kondisi marah, apakah ia sadar atau setengah sadar atau lupa dan hilang kesadarannya? Hal ini dimaksudkan agar keduanya lebih menyakini dan untuk menentukan langkah suami dan istri dalam mensikapi nasib perkawinannya ke depannya. Semoga mencerahkan. Amin.

Wallahu a’lam bish-showab. []

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    4
    9
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 67
  • Total Hits : 904449
  • Pengunjung online : 1