Syiar : Pendikan Karakter

Cara Bijak Memarahi Anak

Sabtu, 07 April 2018

Mohammad Fauzil Adhim

Penulis Buku Parenting

 

Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan “kenakalannya”.

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan:

  1. 1.     Ajarkan kepada mereka konsekuensi, bukan ancaman

Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orang tua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Pertama, kita kembali pada prinsip qubhunal ‘iqab bayan. Adalah buruk menghukum tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan. Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan.

Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada perlu, hendaknya disampaikan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya. Ajak anak mengerti konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman.  

  1. 2.     “Ibu Sudah Bilang Berkali-kali”

Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Orang tua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orang tua yang menyakitkan hatinya. Salah satunya, “Ibu sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan.”

Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi harga dirinya jatuh, makin sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki.

  1. 3.     Jangan cela dirinya, cukup perilakunya saja

Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-inisiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif.

Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, “Kenapa anak saya berbuat demikian?” Disamping itu, celaan pada diri dan bukan pada tindakan bisa melemahkan citra diri, harga diri, dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh. Na’udzubillahi min dzalik.

  1. 4.     Jangan katakan “Jangan”

Tunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai anak menyelesaikan maksudnya, sebagaimana ketika seorang Badui di zaman Nabi kedapatan kencing di masjid. Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, “Nak, main pasirnya di depan teras saja, ya”. Singkat, padat, jelas, dan positif. Bukan, “Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti.”

Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

Semoga Allah melindungi iman kita dan anak-anak kita, sehingga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah ridha kepada kita. Allahumma Amiin. []

 

 

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
  • LPPOM MUI Jawa Tengah Gelar Jambore Halal

    Sebagai salah satu dari langkah tersebut, LPPOM MUI Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Halal di Gedung Gradi Praja, Jalan Pahlaman, ...
  • MUI Raih ISO 9001:2015 dari WQA

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat resmi menerima sertifikasi ISO 9001:2015 dari World Wide Quality Assurance (WQA) yang berpusat di Inggris ...
  • Senyum Dahlia

    Aku turun dari angkot. Gerimis semakin rapat. Kuangkat tas ransel di pundak menjadi peneduh, sekadar menghalangi hujan menerpa kepala. Setelah ...
  • Mengapa Alergi Susu Sapi?

    ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi yang tidak ada ...
  • Nak, Berilah Kami Waktu Sejenak

    Kehidupan rumah tangga ibarat perjalanan panjang yang memerlukan peta, bekal dan waktu rehat. Seiring perjalanan waktu dan terus menerus menjalani ...
  • Hikmah Ramadhan dan Kebangkitan Umat Islam

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan ...
Agustus 2018
MSSR KJS
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
  • 0
    9
    0
    4
    4
    9
    1
  • Pengunjung hari ini : 27
  • Total pengunjung : 200318
  • Hits hari ini : 109
  • Total Hits : 904491
  • Pengunjung online : 1