Syiar : Cermin

Meneladani Ibunda Imam Syafi’i

Selasa, 14 Maret 2017

H. Wiranto Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta

Bagi seorang muslim, salah satu cara membangkitkan energi positif guna mempertahankan idealisme dalam mengarungi kehidupan adalah dengan membaca riwayat orang-orang shalih pada zaman dahulu. Selalu ada value baru ketika kita membaca dan merenungkan kisah kehidupan mereka, meskipun sebenarnya kita sudah pernah membacanya. Bagi para ayah dan ibu, tersedia banyak model yang bisa kita jadikan referensi dalam mendidik anak.Salah satu kisah inspiratif yang penting untuk kita ketahui adalah kisah Imam Syafi’i dan sang ibunda.Sebagaimana kita ketahui, Imam Syafi’i adalah seorang ‘alim yang menjadi imam bagi banyak ulama. Madzab fiqihnya banyak dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Pada usia 7 atau 9 tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz. Setelah itu beliau hafal kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik yang berisi lebih dari 1.700 hadits dan atsar.Pada saat berusia 15 tahun, beliau sudah mendapat kepercayaan dari guru-gurunya untuk berfatwa. Beliaulah yang menjadi pelopor ilmu ushul fiqh dengan kitab Ar-Risalah. Beliau meninggal dunia pada usia 54 tahun dengan meninggalkan lebih dari 170 karya, ada yang mengatakan 200 karya, yang sangat berharga bagi umat Islam. Itu kisah riwayat singkat Imam Syafi’i yang sangat masyhur.Siapakah orang yang paling berjasa dalam mendidik dan membentuk kepribadian Imam Syafi’i hingga menjadi seorang ‘alim yang luar biasa seperti itu? Jawabannya adalah sang ibunda, yang bernama Fathimah binti Ubaidillah. Imam Nawawi pernah menceritakan bahwa ibunda Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi, tekun beribadah, waro’, namun miskin harta. Beliau seorang single parent, karena ayah Imam Syafi’i meninggal dunia ketika Imam Syafi’i masih di dalam kandungan sang ibu. Ibunda Imam Syafi’i membesarkan sang anak dengan penuh kasih sayang serta dorongan yang kuat terhadap ilmu. Sejak kecil Imam Syafi’i dikirim pada para masyaikh di kota Makkah untuk belajar. Setelah menginjak remaja beliau minta izin pergi ke kota Madinah untuk berguru pada Imam Malik. Awalnya sang ibunda keberatan dengan niat anak semata wayangnya, namun akhirnya diizinkan dengan iringan doa yang sangat indah. Ketika mau berangkat, sang ibu berpesan “Pergilah anakku, Allah bersamamu.Insya Allah engkau akan menjadi bintang ilmu yang paling gemerlapan di kemudian hari. Pergilah sekarang, ibu telah ridho melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan”. Dalam literatur yang lain, kita bisa membaca pesan sang ibunda ketika Imam Syafi’i hendak pamitan berangkat mencari ilmu di Iraq. Redaksi pesan tersebut kurang lebih berbunyi “Nak, berangkatlah kau menuntut ilmu, ilmu jihad di jalan Allah, kita ketemu nanti di akhirat saja”. Karena ingat pesan sang ibunda tersebut, Imam Syafi’i tidak pulang untuk menemui sang ibunda dalam waktu yang lama. Baru setelah mendapat izin dari sang ibunda untuk menjenguk, beliaupun menjenguk dengan diantar para muridnya. Namun ketika mendengar bahwa sang anak pulang dengan membawa harta yang banyak, sang ibunda tidak berkenan menerimanya, dengan ucapan “Aku menyuruh anakku mencari ilmu, bukan untuk mengumpulkan dunia”. Setelah seluruh harta dibagikan kepada penduduk Makkah, dan yang tertinggal hanya kitab, sang ibunda baru menerima kehadiran sang anak yang dicintainya. Subhanallah. []

    Belum ada komentar saat ini

untuk mengisi komentar anda harus memiliki akun diwebsite kami,
silahkan login terlebih dahulu
jika belum ada silahkan daftar di Register
  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
      • Meneladani Ibunda Imam Syafi’i

        H. Wiranto Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta Bagi seorang muslim, salah satu cara membangkitkan energi positif guna mempertahankan idealisme dalam mengarungi ...
      • Kemuliaan Seorang Ibu

        Banyak lagu diciptakan dan dilantunkan untuk menggambarkan sosok dan pribadi seorang ibu. Kata-kata pujangga seolah tidak pernah habis melukiskan keindahan ...
      • Sakit Bukan Alasan Lari dari Amanah

        Masyarakat Kota Solo pasti tidak asing dengan sosok tamu kali ini. Wajahnya pernah menghiasi baliho dan spanduk-spanduk di penjuru wilayah ...
      • Ibu dan Peran Multitasking

        Perempuan dilahirkan dengan kemampuan multitasking yang cukup mengagumkan. Contoh sederhana, ketika mencuci (dengan mesin) seorang ibu mungkin akan nyambi memasak, ...
      • Ketika Ibu Sakit

        Banyak urusan rumah tangga yang menjadi tanggung jawab seorang ibu. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan kerja suami dan ...
      • Doa Segera Mendapatkan Jodoh

        H. Kasori Mujahid Assalamu’alaikum Warohmatullahi WabarakatuhUstadz, saya seorang perempuan berusia 25 tahun dan sampai sekarang belum mendapat jodoh. Saya ingin bertanya ...
      November 2017
      MSSR KJS
      1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      2627282930
      • 0
        7
        6
        5
        0
        6
        0
      • Pengunjung hari ini : 86
      • Total pengunjung : 155686
      • Hits hari ini : 324
      • Total Hits : 765060
      • Pengunjung online : 3