Syiar : Liputan

Ketika Ibu Sakit

Selasa, 14 Maret 2017

Banyak urusan rumah tangga yang menjadi tanggung jawab seorang ibu. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan kerja suami dan sekolah anak-anak, mencuci, dan masih banyak lagi. Baik ibu rumah tangga murni atau ibu bekerja, mereka dihadapkan pada rutinitas pekerjaan rumah yang tiada habisnya.Sinyal ItuEni Hestuti (41 th) menjalani rutinitas hariannya bersama 7 orang anak (anak sulungnya sudah mondok di Darul Qur’an Paulan), selain aktifitas mengajar dari pagi sampai sore. Ada 3 anak yang sudah duduk di bangku SD (kelas 2, 4, dan 5), tiga anak di PAUD (play group, TK A, TKB), dan yang paling kecil usia 2 tahun.Seperti ibu rumah tangga yang lain, aktivitasnya tidak pernah berhenti mulai bangun tidur sampai tidur lagi.Tanpa asisten rumah tangga, Eni mengerjakan berbagai pekerjaan rumah bekerja sama dengan suami dan anak-anaknya. Mulai dari memasak nasi, mencuci baju, menyiapkan seragam, dan aktifitas pagi lainnya. Capek memang, tapi semua aktivitasnya adalah ladang pahala baginya. “Alhamdulillah Allah memberikan kesehatan yang optimal pada saya,” ungkapnya. Eni sudah hafal ritme tubuhnya. Kalau tubuhnya sudah memberi sinyal-sinyal, ia segera meresponnya. Istirahat, minum madu, juga minum air putih yang banyak. Pernah suatu hari sakit, mungkin karena kelelahan. Asam lambung naik sampe ulu hati. Istirahatnya hanya sebentar. Jadi kadang harus kuat menahan sakit agar tetap bisa mengurus anak-anak. Terutama jika suami sedang banyak tugas ke luar. “Beristighfar dan berdoa, lama-lama sembuh perlahan,” tambahnya.            Tapi kondisi ini jarang terjadi. Eni memiliki aktivitas yang bisa mensugesti dirinya bahwa, dengan dekat dengan Al-Qur’an, badannya menjadi sehat. Oleh karena itu, di sela aktivitas sibuknya mengajar dan mengurus rumah tangga, Eny berusaha untuk tilawah 1 hari 1 juz, begitu juga untuk menghafal. Eni mengaku harus pandai cari celah untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, saat anak-anak sudah tidur, di sela waktu mengajar, atau di saat-saat longgar. Kadang tidak bisa langsung 1 juz, kadang bisa. Memang semua butuh perjuangan.Peran Penting SuamiUntung saja suami sangat membantu. Meski aktivitas suaminya di luar sangat banyak, tetap bisa membantu di beberapa pekerjaan. Sehingga selama 13 tahun pernikahan, Eni tetap nyaman melakukan rutinitas tanpa asisten rumah tangga.“Partner hidup”, itulah predikat yang diberikan Kurnia (40 th) kepada suaminya. “Suami saya tidak menganggap saya ‘konco wingking’, itu sebabnya dia sama sekali tidak keberatan membantu banyak pekerjaan rumah,” kata ibu rumah tangga tiga anak ini.Kurnia tidak bisa membayangkan andai saja suaminya adalah tipe laki-laki yang membeda-bedakan, ini pekerjaan laki-laki, itu pekerjaan perempuan. Apalagi salah satu anaknya adalah anak kebutuhan khusus yang butuh perhatian dan pengawasan ekstra. Tidak hanya fisik, kelelahan yang dirasakannya juga kelelahan psikologi. Ini ia rasakan saat awal-awal memiliki anak. Untung saja saat ini Kurnia dan suami sudah bisa menerima kondisi anaknya. Saat ini keluarganya sudah bisa menikmati keadaan.Minta Bantuan Kurnia tidak malu-malu ‘minta bantuan’ suami atau anak-anaknya jika ia membutuhkan bantuan, atau saat badannya tidak bisa diajak kompromi. Karena secara sekilas memang kelihatan bahwa Kurnia bisa melakukan banyak hal sendiri. Namun ibu juga manusia, yang bisa merasa lelah bahkan sakit. Meski tidak ada kata libur atau cuti bagi ibu, tapi saat akhirnya jatuh sakit Kurnia akhirnya mengibarkan bendera putih. Untungnya suami dan anak-anaknya cukup ‘responsif’. Mereka terbiasa saling bantu dalam pekerjaan rumah tangga.Alhasil, saat akhirnya Kurnia harus berobat ke luar negeri karena penyakit yang dideritanya, tidak ada ‘kacau balau’ yang terjadi. Semua berjalan seperti biasa. Hanya butuh penyesuaian tentang bangun pagi dan ‘on time’ berangkat sekolah saja, karena biasanya itu adalah hal yang paling menjadi perhatian Kurnia. Saat ia tidak ada, tidak ada juga yang mengawal kedua hal ini.Peran ibu memang sangat penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah, bagaimana peran-peran itu bisa didelegasikan sehingga, saat ibu sakit, rutinitas tetap bisa berjalan seperti biasanya. (Ayu)

  • Terpopuler
  • Terkomentari
  • Terbaru
      • Dari Redaksi

        Pembaca yang budiman, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini? Saat membuka mata di pagi hari, Allah masih membangunkan dan melihat keluarga ...
      • Talents Mapping Ajak Fokus pada Kekuatan

        Training dua hari ini terselenggara atas kerja sama Kunanta Consulting Solo dan Pathfinder Consulting Bandung. Hadir sebagai pembicara Rama Royani ...
      • RUU Negara Bangsa Yahudi Menuai Berbagai Kecaman

        Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Zeid bin Raad al-Hussein mengecam disetujuinya Rancangan Undang-Undang (RUU) Negara Bangsa Yahudi ...
      • Kemenag Luncurkan Aplikasi Haji Pintar

        Kementerian Agama telah merilis aplikasi Haji Pintar guna mendukung lancarnya pelaksanaan ibadah haji tahun 1439 H/2018 yang jatuh pada bulan ...
      • Menara MUI Ditargetkan Selesai 2020

        Tasyakuran Milad MUI ke 43 diisi dengan peletakan batu pertama pembangunan Menara MUI oleh Presiden RI Ir. H. Joko Widodo ...
      • Isteri Belum Bisa Melayani karena Trauma

        Assalamualaikum wr wb. Ustadz, mohon nasihatnya. Kami telah menikah hampir enam tahun dan sudah dikaruniai Allah swt empat anak. Usia anak ...
      Desember 2018
      MSSR KJS
      1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031
      • 0
        9
        9
        7
        5
        3
        3
      • Pengunjung hari ini : 81
      • Total pengunjung : 235733
      • Hits hari ini : 184
      • Total Hits : 997533
      • Pengunjung online : 1